Senin, 01 Februari 2010

Tenggelamnya Sekoci Yin Galama

Langit merah mulai memenuhi ufuk Barat, kicau burung-pun mulai tak terdengar lagi. Gemuruh ombak kian teratur. Angin bertiup sepoi-sepoi. Seisi alam mulai mengakhiri aktivitasnya.

Dari kejauhan terlihat bayangan samara-samar sebuah sekoci akan memasuki kuala. Perlahan tetapi pasti ia kian mendekat. Seketika itu pula meriam pertanda datangnya kapal memasuki kuala dibunyikan. Tummmm… dentuman meriam telah dibunyikan. Sekoci-pun mulai menelusuri aliran sungai, berjalan perlahan karena sungainya tidak begitu luas.

Suasana kian mengelitik telinga, serangga-serangga sungai berbunyi saling bergantian, sahut-menyahut. Bagaikan berada dalam sebuah keramaian, yang memecahkan kesunyian. Sang nahkoda terus memusatkan pandangan ke depan. Tak menghiraukan keramaian serangga-serangga sungai tengah bergembira, karena seharian menahan diri.

Tiba-tiba dari bilik tirai pondokan sekoci terdengar suara merdu memecah kebisingan suara serangga-serangga sungai yang sedari tadi terus berbunyi. Dialah Yin Galama, putri Ako Ho. Yin Galama ini bukan Yin Galema dalam novel karya Ian Sancin. Dia hanyalah putri seorang pedagang Tiongkok yang membawa barang-barang seperti; keramik, mangkok Cina dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut ia datangkan lansung dari negerinya. Pelayaran sekoci Ako Ho melintasi Laut Natuna diperairan Muntok hingga masuk ke wilayah laut Metibak Peradong.

Suara merdu dari putri Ako Ho kian memukau. Sang nahkoda jadi semangat memainkan baling-baling setir sekoci, meski gelap malam kian mencekam. Sejenak suara merdu itu terhenti, dan terdengar sebuah sebuah pertanyaan dari Yin (panggilan Yin Galama).

“Ko, kita di mana sekarang?”

Ako Ho pun menjawab pertanyaan putrinya.

“Kita sekarang ada di aliran Sungai Peradong.”

Kemudian Yin kembali bertanya pada Ako-nya.

“Sungai Peradong ini masuk wilayah kawasan mana Ko?”

“Sungai ini masuk wilayah kawasan bagian Muntok.”

Setelah mengerti, Yin pun terdiam. Batinnya bertanya-tanya mengapa Ako-nya membawa barang-barang tersebut ke Peradong.

Malam semakin gelap, serangga-serangga sungai satu persatu mulai menghentikan suaranya. Yin pun masuk ke dalam bilik pondokan sekoci. Dalam bilik ia merenung, ada apa gerangan di kampong Peradong, sampai-sampai Ako-nya membawa barang-barang demikian ke sana.

Di tengah redupnya suara bising serangga-serangga sungai, nahkoda menyuarakan pada seisi sekoci bahwa sebentar lagi akan tiba di pelabuhan pekal Peradong. Pelabuhan ini tidak sama halnya dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya, karena pelabuhan pekal Peradong hanylah pelabuhan yang kecil, yang lebih cocok dinamai dengan tambatan perahu. Namun, demikianlah adanya pelabuhan pekal Peradong.

Sedikit bahagia dihati Yin, walaupun perasaan dihantui dengan rasa penasaran terhadap kampong yang dituju.

Tiba-tiba, nahkoda berteriak kaget, seisi sekoci menjadi terkejut, ada apa gerangan nahkoda berteriak…?? Ternyata seekor buaya besar lewat di depan muka sekoci. Kini, keterkejutan itu telah sirna. Tapi, tiba-tiba… gradakkkk…. seperti ada sesuatu yang menabrak, sekoci jadi bergoyang ke kriri dan ke kanan. Nahkoda jadi panic, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada sekoci yang dinahkodainya. Ternyata, buntut belakang sekoci mengalami kebocoran. Seisi sekoci jadi berhamburan, rasa ketakutan menghantui hati mereka.

Air telah masuk ke dalam sekoci setengah mata kaki orang dewasa, sekoci tetap berjalan hingga tiba di tikungan sungai. Sesampai di tikungan sungai, air telah setengah badan sekoci. Seisi sekoci meloncat ke luar.

Perlahan tapi pasti, sekoci mulai tenggelam. Harapan Ako Ho pun ikut tenggelam, karena barang-barangnya ikut tenggelam bersama sekoci. Mereka pun berenang menuju tepian sungai, termasuk Yin. Sesampai di tepi sungai, mereka memanjat pohon-pohon yang ada. Dengan tubuh kedinginan mereka mendekap di pohon-pohon menanti malam berganti siang dengan harapan yang pupus.

Kampong Peradong yang dituju belum kesampaian, siang yang dinanti pun masih lama. Sunguh malang nasib Yin Galama, karena sekoci Ako Ho tengelam oleh tabrakan seekor buaya.




Riding Panjang, 01 Februari 2010
Pukul 20:09 WIB
By: Nayrus al-‘Alim el-Rayyan

Rabu, 20 Januari 2010

Sinopsis Buku Tradisi Sedekah Kampung Peradong



Sebuah tradisi warisan nenek moyang yang ada di kepulauan Bangka Belitung, dan telah dilakukan selama puluhan tahun, bahkan kemungkinan telah lebih dari seratus tahaun. Warisan tradisi tersebut dilakukan masyarakat Peradong dalam setiap tahun bertepatan dengan bulan Maulid (Rabiul Awwal). Tradisi tersebut dilakukan bertujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, sebagai wujud kecintaan masyarakat peradong terhadap belaiu.


Dilihat dari corak dan gayanya, tradisi ini dipengaruhi tradisi orang dari Sulawesi Barat, Betawi (Jakarta), dan Aceh. Kemiripan ini dapat dilihat pada pelaksanaan sunat kapong dan tamat ngaji (khataman al-Qur’an). Seperti halnya “Upacara Daur hidup Adat Betawi”, yang di dalamnya terdapat sunat yang dilakukan secara tradisional oleh bengkong. Sedangkan di Sulawesi Barat dapat dilihat pada Pesta Adat Sayyang Pattudu, yang dirayakan untuk mensyukuri anak-anak yang katam (tamat) al-Qur’an.


Untuk kebenarannya belum diketahui, hanya saja menurut informasi masyarakat Peradong, tradisi tersebut telah ada sebelum Indonesia merdek, walaupun sempat terhenti dan akhirnya dihidupkan kembali setelah kemerdekaan Indonesia.


Dalam buku ini pembaca akan mendapatkan sedikit pemahaman dan pengetahuan tentang prosesi dan ritual yang terdapat dalam tradisi Sedekah Kampung di Peradong.


Rabu, 13 Januari 2010

Perayaan Tradisi Sedekah Kampung Peradong 2010


Perayaan Tradisi Sedekah Kampung Peradong 2010



PERADONG NEWS - Di awal tahun 2010 ini, tepatnya pada tanggal 07 Maret 2010, masyarakat Peradong Kecamatan Simpang Teritip Bangka Barat kembali akan merayakan tradisi tahunan, yaitu tradisi “Sedekah Kampung Peradong”. Tradisi ini merupakan tradisi warisan dari nenek moyang yang tidak diketahui kapan adanya, dan telah dilakukan selama puluhan tahun.


Sebagaimana biasanya, setiap tahun masyarakat Peradong selalu merayakan tradisi tahunan ini dengan berbagai acara. Selain itu, masyarakat juga biasanya membuat makanan, seperti dodol (makanan khas masyarakat) dan lain sebagainya guna memeriahkan acara tersebut.


Arak-arakan dalam Tradisi Sedekah Kampung Peradong


Dalam tradisi ini, terdapat beberapa ritual dan pantangan yang harus dipatuhi dan dilakukan. Ritual tersebut, seperti upacara permohonan izin melaksanakan sedekah kampung, tamat ngaji (khataman al-Qur’an), sunat kapong (kampung), selawatan barzanji, dan penampilan pencak silat kampung. Kesemua ritual tersebut dikemas dalam dua hari pelaksanaan, yang biasanya ditetapkan pada hari Sabtu dan Minggu. Adapun pantangan selama acara berlangsung adalah dilarang menyalakan lampu senter, duduk di atas pagar, menjemur atau meletakkan pakaian di atas pagar dan lain sebagainya. Jika pantangan tersebut dilanggar, konon katanya bisa kepuler (kepala terbalik ke belakang).


Untuk memeriahkan acara tersebut, masyarakat biasanya mendatangkan grup band dangdut lokal. Sehingga dengan demikian, masyarakat dan pengunjung selain merayakan tradisi tahunan tersebut, juga dapat terhibur dengan hiburan yang ada. Hiburan lain, selain band juga dimeriahkan dengan penampilan dambus, yang dimainkan oleh masayarakt setempat yang diikuti dengan tarian khas dambus oleh gadis-gadis kampung tersebut.


Semoga tradisi ini tetap dijaga dan dilestarikan, karena tradisi ini merupakan warisan tradisi loka yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Semoga dengan ini, ada perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah untuk menyemarakkan Visit Babel Archipelago 2010.


Jumat, 01 Januari 2010

Kampung Peradong, dari wisata Pantai sampai wisata Sejarah


Kampung Peradong, dari wisata Pantai sampai wisata Sejarah

Wisata Pantai


Keelokkan Pantai Metibak

Pantai yang terletak di desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat ini sangat cocok untuk wisata keluarga waktu liburan, kar ena ombaknya yang tak besar, dihiasi banyaknya pohon-pohon kelapa dan pada bulan-bulan tertentu kita dapat menjala ikan dan mencari lukan ( kerang-kerangan ) serta kepah dengan perjalanan sedikit kearah pantai Mesirak yang juga terletak dikampung Peradong. Pada hari-hari tertentu banyak orang berkunjung u ntuk menjala ikan dan memancing, karena memang dipantai ini terdapat sungai yang disebut oleh masyarakat “sungai Peradong”.

Jarak tempuh perjalanan dari Kecamatan Simpang Teritip kesimpang pantai berkisar 10 Km dengan waktu perjalanan kurang lebih 20 menit, sedangkan dari simpang kepantai jarak tempuh hanya 7 Km kurang lebih 10 menit perjalanan.


Peninggalan Sejarah

Manuscript bertarikh 1353 H

Sebuah Naskah/Manuscript peningga lan sejarah yang belum diketahui oleh masyarakat pada umumnya dan khususnya masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung. Manuscript ini disurat (d isalin) oleh Batin Rimbun (Haji Batin Sulaiman) dari kitab karangan Syaikh Nuruddin ar-Raniri bernama “ Asroru al-Insaan “ dan terselesaikan penyalinannya pada tanggal 4 Rabiul Awwal 1353 Hijriyah hari Sabtu pukul 12 siang. Untuk tempat penyelesaiannya tidak diketahui keberadaannya, karena tidak tertulis dalam manuscript tersebut .
Nama Batin Rimbun berubah menjadi Haji Batin Sulaiman setelah ia kembali dari menunaikan ibadah haji yang bermukim di Makkah selama kurang lebih 3 tahun. Manuscript ini disimpan dan dipelihara dirumah Atok Bok didusun Menggarau kampung Peradong Kecamatan Simpang Teritip Bangka Barat. Karena tidak ditemukan dokumen tentang kehidupan beliau (penyurat) tersebut, untuk masa kehidupannya hanya didapat dari wawancara dari takoh masyarakat setempat. Diperkirakan Penyurat tersebut lahir sekitar tahun 1850-an dan wafat sekitar tahun 1920-an.


Meriam Bersejarah


Peninggalan sejarah yang membuktikan bahwa adanya perjuangan masyarakat kampong Peradong terhadap penjajah yang menjaja h negeri serumpun sebalai. Meriam ini kata masyarakat tersebut berjumlah dua buah, namun yang satunya berada didalam sungai, belum diketahui sampai sekarang apakah meriam tersebut masih aktif atau tidak. Menurut masyarakat setempat, meriam tersebut pernah diangkat kedarat dan dibawa kekampung penduduk, namun akhirnya diletakkan kembali ketempat semula. Pasalnya, dukun kampong yang dikenal sebagai penjaga mengalami kejadian dan terkena penyakit aneh. Tak hanya dukun kampong tersebut, orang yang mengangkat meriam kekampung tersebut juga mengalami hal serupa.



Sayang keadaannya memprihatinkan, tidak dirawat dan terbengkalai. Semoga pemerintah Kabupaten Bangka Barat memperhatikan hal ini.

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI SEDEKAH KAMPUNG DI DESA PERADONG KECAMATAN SIMPANG TERITIP KABUPATEN BANGKA BARAT


NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM

DALAM TRADISI SEDEKAH KAMPUNG
DI DESA PERADONG KECAMATAN SIMPANG TERITIP
KABUPATEN BANGKA BARAT

Oleh: Suryan
Jurusan Tarbiyah
Prodi Pendidikan Agama Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
Syaikh Abdurrahman Siddik
Bangka Belitung



Abstrak

Diambilnya permasalahan ini berdasarkan pertimbangan, bahwa saat ini semakin surut dan tenggelamnya tradisi-tradisi lokal yang banyak mengadung nilai-nilai pendidikan Islam akibat tradisi-tradisi modern yang serba instant. Untuk itulah, mutlak dibutuhkan usaha untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal tersebut yang ada di Bangka dan memberdayakan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya. Dari apa yang dilakukan oleh masyarakat Peradong, setidaknya merupakan salah satu wujud upaya untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal tersebut, yang di dalamnya menggambarkan bahwa pendidikan, khususnya pendidikan Islam tidak mutlak diperoleh melalui lembaga formal saja.

Penelitian ini merupakan hasil kajian dan pengamatan terhadap nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi sedekah kampung di Desa Peradong kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Pengumpulan data utamanya dilakukan melalaui wawancara mendalam (indepth interview) terhadap narasumber dan informan, dan diperkuat dengan pengamatan terlibat (participant observation) serta melalui dokumentasi berupa arsip desa, foto-foto, dan lain sebagainya. Selanjutnya, data yang terkumpul kemudian diperbenturkan dengan teori-teori yang relevan agar didapat gambaran yang vulgar atas kondisi objektif di lapangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pendidikan Islam melalui tradisi sedekah kampung di Desa Peradong ternyata mampu menjadi salah satu solusi alternatif bagi pengembangan dan peningkatan pendidikan Islam, khusunya bagi anak-anak dan remaja.

Kata-kata Kunci: Nilai-nilai Pendidikan Islam, Tradisi Sedekah Kampung, Kehidupan Beragama, Solusi Alternatif

Wisata Mentok, sudah "mentok" kah ??


Wisata Mentok, sudah "mentok" kah ??


KOTA Mentok di Kabupaten Bangka Barat adalah kota tua yang berdiri sejak berabad silam. Penjajah Belanda-lah yang membangun daerah itu, sekaligus menjadikannya sebagai kota pelabuhan.

MELALUI Pelabuhan Muntok di Mentok, hasil alam terutama lada putih Bangka yang begitu terkenal diangkut kapal-kapal Belanda menuju ke daratan Eropa. Melalui Pelabuhan Muntok pula timah yang digali dari bumi Bangka dikirim ke negara penjajah.

Bekas kejayaan Mentok-sekaligus kebesaran penjajah Belanda-sampai kini masih jelas terlihat di kota yang kini ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka Barat tersebut. Ratusan gedung tua dengan mudah ditemui di seantero kota pantai dan perbukitan tersebut.

Dua di antara ratusan gedung tua yang masih kokoh berdiri bahkan memiliki nilai sejarah yang amat tinggi bagi negara ini. Dua gedung tua itu adalah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, gedung tersebut pernah dijadikan tempat tinggal pendiri negara ini.

Bung Karno bersama Bung Hatta dan sejumlah pemimpin republik pernah menempati dua bangunan bersejarah itu saat dibuang Belanda pada Februari 1949. Bung Hatta saat dibuang menempati Pesanggrahan Menumbing yang terletak di tengah hutan perawan di atas Bukit Menumbing.

Di dua gedung yang lokasinya berjarak sekitar 10 kilometer itulah pemimpin lain seperti H Agus Salim dan Mr Mohammad Roem dibuang bersama Presiden dan Wakil Presiden RI pertama tersebut.

Di Mentok, wisatawan dapat pula menikmati kemegahan bangunan tua yang masih kokoh, mercu suar Tanjung Kelian yang dibangun tahun 1862. Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa menyaksikan seantero Mentok dan sekitarnya.

Namun, sayang, Mentok pun seperti kota tua yang terlupakan. Kota kecamatan itu tetap belum menjadi daerah tujuan wisata, baik bagi wisatawan luar daerah maupun mancanegara. Mentok baru dinikmati oleh sebagian kecil warga setempat dan daerah lain di Pulau Bangka.

Wisatawan lokal itu umumnya juga hanya menikmati Pantai Tanjung Kelian dan mercu suarnya, serta Bukit Menumbing. Karena belum dikelola menjadi daerah tujuan wisata, menyebabkan Mentok tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya.

Untuk Sejumlah kendala menghadang perkembangan Mentok. Salah satu hambatan utama adalah sulitnya transportasi di daerah itu. Agar bisa ke Bukit Menumbing, misalnya, alat transportasi yang bisa digunakan hanya dengan mobil atau sepeda motor sewaan, namun biayanya relatif mahal.

Jalan menanjak yang lebarnya hanya dua meter menjadi alasan mahalnya tarif. Belum lagi perjalanan menuju Menumbing yang harus melalui hutan perawan sejauh lima kilometer. "Saya tidak berani mengantar ke sana," ujar Sarif, salah seorang tukang ojek sepeda motor ketika diajak ke Menumbing.

Di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut tersebut pengunjung bisa melihat-lihat kamar tempat Bung Karno dan Bung Hatta serta salah satu mobil yang mereka pakai saat diasingkan Belanda di daerah itu.

Pesanggrahan tempat pembuangan Bung Karno dan Bung Hatta itu sejak beberapa tahun lalu telah diubah menjadi hotel dengan nama Jati Menumbing. Dari atas perbukitan ini, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok, dan Selat Bangka terlihat dengan jelas.

Di Mentok juga terdapat Wisma Ranggam yang saat ini tengah dipugar. Gedung tua itu juga pernah menjadi tempat tinggal Bung Karno saat berada dalam pengasingan di Mentok.

Keindahan Mentok tidak hanya itu. Berjalan-jalan di dalam kota kecil itu tidak ubahnya berjalan-jalan di kota tua. Di mana-mana terdapat gedung tua, baik yang masih terawat karena dihuni maupun yang sudah rusak berat karena dibiarkan telantar.

Itu semua bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang. Warga Sumatera, misalnya, bisa datang ke Mentok melalui Pelabuhan Muntok. Dari Pelabuhan Boom Baru di tepi Sungai Musi di Kota Palembang, Mentok dapat dicapai dengan kapal cepat sekitar 2,5- 3 jam.

Belum bisa diwujudkannya Mentok sebagai daerah tujuan wisata, diakui Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Mentok Fauzi. Menurut dia, hal itu terjadi terutama karena selama ini perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat masih kurang.

Namun, setelah Kabupaten Bangka dimekarkan dan salah satunya menjadi Kabupaten Bangka Barat, Fauzi yakin Mentok akan tumbuh menjadi daerah tujuan wisata yang dapat diandalkan. "Mentok ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan dengan menjadi ibu kota kabupaten, dalam waktu lima tahun ke depan Mentok akan jauh lebih maju," katanya.

Dengan menjadi ibu kota kabupaten, ungkap Fauzi, pembangunan Mentok tentu akan lebih diperhatikan. Pembangunan di kecamatan yang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa itu akan menyentuh pula sektor pariwisata.

WISATA Pulau Bangka memang tidak hanya melulu mengandalkan pantainya yang cantik-cantik. Sejumlah obyek lain di pulau itu bisa diandalkan menjadi magnet penarik wisatawan.

Begitu banyak dan beragamnya potensi wisata Bangka, membuat pulau ini pantas disebut tidak kalah dengan Pulau Dewata. Namun, pengelolaan yang tidak maksimal menyebabkan potensi ini seperti terabaikan. Jangankan orang Jakarta dan kota besar lainnya, warga Palembang dan Sumatera Selatan yang bertetangga pun seperti enggan berkunjung ke Bangka.

(disadur dari kompas.com "Wisata bangka, sudah mentok ?")
Posted by : Admin ForumIPBB on Jumat, 20 Maret 2009

Selasa, 29 Desember 2009

Haji Batin Sulaiman, Penulis Naskah Arab Melayu


Haji Batin Sulaiman; Penulis Naskah Arab Melayu

Dari Kitab karya Syaikh Nuruddin ar-Raniri

Oleh : Suryan Masrin



Haji Batin Sulaiman merupakan nama yang asing dalam nama tokoh-tokoh penyalin naskah kemelayuan di Indonesia, mungkin kebayakan orang tidak pernah mendengar dan bahkan sama sekali tidak mengenal cerita tentangnya. Akan tetapi ada sedikit goresan cerita yang didengar, kalau ia juga konon dikenal dijawa. Ia adalah seorang keturunan kebangsaan China asli dengan marga Chao, nama aslinya adalah Siang Chao,[1] yang datang ke Bangka kira-kita tahun 1917-an sebagai pekerja orang Belanda (penjajah) yang mengambil timah di Muntok Bangka, sekarang Kabupaten Bangka Barat yang terkenal dengan lada putihnya hingga mancanegara. Setelah sekian lama menjadi pekerja orang Belanda, ia merasa penting untuk dirinya harus membebaskan diri dari cengkraman orang Belanda sebagai seorang pendatang dari negeri luar. Akhirnya, diperkirakan tahun 1925-an iapun melarikan diri kesuatu daerah yang tergolong sedikit pedalaman, tepatnya di desa peradong kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat (sekarang).


Setelah sekian tahun lamanya tinggal di desa Peradong, akhirnya ia masuk agama Islam dan kemudian beristrikan penduduk setempat dan memberikan keturunan sebanyak 5 orang, 4 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Ia – pun mulai memperdalam pengetahuan tentang Islam, hingga datang tiba baginya waktu untuk menurutkan keinginannya. Berangkatlah ia menunaikan ibadah haji kekota Makkah al-Mukarromah dengan melewati transportasi laut, dengan kapal kayu. Pada waktu itu belum ada orang yang berangkat untuk haji dengan menggunakan pesawat terbang. Kurang lebih tiga bulan lamanya perjalanan dari Bangka – Indonesia ke kota Makkah, perjalanan yang sangat lama untuk menunaikan ibdaha haji yang merupakan rukun Islam yang kelima. Sampailah rombongan tersebut di kota Makkah. Tak puas setelah selesai menunaikan ibadah haji di kota Makkah, demi untuk mendalami Islam ia – pun memutuskan untuk menetap di kota Makkah. Diperkirakan tiga tahunan ia tinggal di kota Makkah belajar dan mendalami Islam, akhirnya tiba waktunya untuk pulang kembali ke tempat peraduan, menemui istri dan anak-anaknya di Bangka – desa Peradong. Setelah sampai di desa Peradong, tepatnya di Pekal Bawah[2] ia mulai menyebarkan ilmunya yang diperoleh dari tanah suci Makkah tersebut. Salah satu muridnya yang penulis dapat dari cerita tokoh agama dusun Menggarau, desa Peradong adalah Kek Pi’i (Peradong), Kek Klares (Peradong), Kek Yasir dan Abdurahim (masyarakat asli di kecamatan Simpang Teritip). Sekian tahun lamanya ia berkutat dalam memberikan ilmunya kepada murid dan msyarakat setempat, ia menulis naskah salinan dari kitab karya Syaikh Nuruddin ar-Raniri yang bernama Asroru al-Insan”. Naskah tersebut teselesaikan di Desa Peradong pada hari Sabtu pukul 12 siang, tanggal 14 Rabiul Awwal 1454 H/1932M. Penulis hanya bisa menemukan satu buah naskah hasil tulisan beliau, yang masih menggunakan lembaran kertas tempo dulu dan memakai tinta asli cina dengan warna tulisan merah untuk tulisan arab asli (arab gundul) dan hitam untuk tulisan arab melayu (terjemahan/penjelasannya).


Begitulah perjalanan hidup Haji Batin Sulaiman yang penulis ketahui dari sumber-sumber yang didapat. Menurut pengetahuan penulis, beliau adalah salah satu penulis naskah yang ada di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selain Syaikh Abdurrahman Sidiik dan lain-lain. Ia wafat diperkirakan tahun 1960-an di Desa Peradong. Mudah-mudahan dengan jalan ini ada para pecinta tokoh-tokoh kesejarahan yang ingin mengetahui dan meneliti lebih lanjut. Wallahu a’lam.

Wassalam……



[1] Wawancara dengan Atok Buter, salahsatu murid dari muridnya Haji Batin Sulaiman, wawancara tanggal 20 Januari 2008.

[2] Nama tempat ia mengajarkan dan menyebarluaskan ilmunya, sekarang tempat perkuburan Dusun Menggarau, termasuk makmn beliau.

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلَوةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَـ شِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.

Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,

kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

(Al-Baqarah: 45)