Simpang Teritip(21/06/2011), Sebuah meriam kuno peninggalan zaman Belanda tergeletak di pinggir muara Sungai Pelangas Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Pada kesempatan ini Kabid Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Sastrawan A. Rani, S. Ip didampingi oleh Kasi Kessos Kecamatan Simpangteritip, Sukarman, S.Ipem dan Sekdes Peradong, Syarudin mengunjungi lokasi meriam itu berada, Senin kemarin (20/06/2011).
Menurut sumber berita dari Sekdes Peradong, Syarudin, kepastian asal usul meriam itu tidak pasti namun diperkirakan meriam itu telah berusia ratusan tahun. Syarudin mengungkapkan bahwa sebenarnya meriam itu berjumlah dua buah. Saat ini meriam hanya tinggal satu buah dan satunya lagi masih tertanam di dasar Sungai Pelangas yang belum diketahui pasti letak tertanamnya.
Di zaman Belanda, meriam kuno itu digunakan sebagai tanda keluar masuk kapal pengangkut barang oleh Belanda dikarenakan luas sungai hanya untuk satu kapal, jadi meriam digunakan sebagai tanda kapal yang hendak keluar masuk sungai itu, kisah Syarudin yang didapatnya dari orangtua-orangtua setempat.
Meriam kuno yang dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya Kabupaten Bangka Barat ini memiliki panjang 120 cm, dengan lingkaran moncong depan berdiameter 30 cm, lingkaran tengah berdiameter 20 cm, dan buritan belakang berdiameter 30 cm.
Meriam kuno, yang tergeletak di semak belukar di sekitar Pangkal Peradong di Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat diperkirakan sudah ada sejak masa kolonial Belanda.
Meriam tersebut, bukan digunakan sebagai alat perang, melainkan sebagai tanda masuk dan keluarnya kapal (perahu) dari Muara Sungai Laut Pelangas ke Pangkal Peradong.
"Kita dengar kisah itu dari orang tua yang mengetahui sejarah meriam di Peradong, yang sejak zaman Belanda dulu, meriam tersebut digunakan sebagai tanda keluar masuknya perahu dari muara Pelangas (Laut China Selatan) ke Sungai Peradong," kata Rahman, seorang warga setempat kepada bangkapos.com Senin (13/6/2011) di lokasi Meriam di Pangkal Peradong Desa Peradong..
Selama itu, kata Rahman, perahu yang keluar masuk Sungai Peradong dari Muara Pelangas membawa muatan barang-barang milik kolonial Belanda, sedangkan kapal besarnya berlabuh di tengah laut.
MERIAM TUA - Meriam berukuran panjang sekitar satu meter berada di semak belukar di sekitar Pangkal Peradong di Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat, Senin (13/06/2011). Diperkirakan usia meriam itu terbilang mencapai puluhan tahun.
Laporan Wartawan Bangka Pos Riyadi
Hingga kini, sebuah meriam kuno berukuran panjang sekitar satu meter masih tergeletak di suatu tempat, sekitar Pangkal Peradong di Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Masyarakat setempat menganggap, meriam ini sebagai barang bersejarah, meski terlihat sudah tidak terawat.
Kepada bangkapos.com, seorang Sesepuh Desa Peradong bernama Piun menuturkan, tidak tahu secara persis asal-usul meriam tersebut dari mana.
"Sejak kami kecil, benda itu sudah ada, saya nggak tahu asal-usulnya, orang yang merawat meriam sudah lama meninggal," kata Piun kepadabangkapos.com Senin (13/6/2011) di lokasi meriam di Pangkal Peradong desa setempat.
Menurut Piun, jumlah meriam sebenarnya ada dua buah, satu buah berada di semak-semak daratan Pangkal Peradong dan satunya lagi tertanam di dasar sungai. Hanya saja, satu meriam yang tertanam di dasar sungai tersebut tidak satupun yang mengetahui keberadaannya.
Sebuah tradisi warisan nenek moyang yang ada di kepulauan Bangka Belitung, dan telah dilakukan selama puluhantahun, bahkan kemungkinan telah lebih dari seratus tahun. Warisan tradisi tersebut dilakukan masyarakat Peradong dalam setiap tahun bertepatandengan bulan Maulid (Rabiul Awwal) kelender Hijriyah. Tradisi tersebut dilakukan bertujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, sebagai wujud kecintaan masyarakat peradong terhadap belaiu.
Dilihat dari corak dan gayanya, tradisi ini dipengaruhi oleh tradisi orang dari Sulawesi Barat, Betawi (Jakarta), dan Aceh. Kemiripan ini dapat dilihat pada pelaksanaan sunat kapong dan tamat ngaji (khataman Al-Qur’an). Seperti halnya “Upacara Daur hidup Adat Betawi”, yang di dalamnya terdapat tamatan Qur’an dan sunat yang dilakukan secara tradisional oleh bengkong. Sedangkan di Sulawesi Barat dapat dilihat pada “Pesta Adat Sayyang Pattudu”, yang dirayakan untuk mensyukuri anak-anak yang khatam (tamat) Al-Qur’an. Untuk kebenarannya belum diketahui, hanya saja menurut informasi masyarakat Peradong, tradisi tersebut telah ada sebelum Indonesia merdeka, walaupun sempat terhenti dan akhirnya dihidupkan kembali setelah kemerdekaan Indonesia. Dalam buku ini pembaca akan mendapatkan sedikit pemahaman dan pengetahuan tentang prosesi dan ritual yang terdapat dalam tradisi Sedekah Kampung di Peradong.
Silakan Download Buku: Tradisi Sedekah Kampung Peradong di link:
Kampung Peradong adalah salah satu desa bagian dari Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kampung Peradong yang mempunyai dua dusun, yaitu dusun Menggarau dan dusun Rimba menempati wilayah seluas 40 Km² dengan batas wilayah di sebelah utara berbatasan dengan Desa Air Nyatoh, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pengek, sebelah barat berbatasan dengan Laut Natuna dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Berang dan Desa Ibul. Secara geografis terletak pada 105.00-106.00Bujur Timurdan 01.00-02.00 Lintang Selatan dengan curah hujan rata-rata 100mm/bulan atau sekitar enam bulan jumlah bulan hujan (tergolong iklim tropis dan basah), dan suhu udaranya berkisar antara 23,5˚C sampai maksimum 31,1˚C. sebagian besar wilayahnya adalah daratan rendah sedangkan sebelah barat berupa pesisir pantai dan sebelah timur dan utara berupa bukit dan hutan tropis. Dengan orbitasi jarak tempuh ke Ibu Kota kecamatan sekitar 5 Km, jarak ke Ibu Kota Kabupaten sekitar 39 Km dan jarak tempuh ke Ibu Kota provinsi sekitar 105 Km. Desa Peradong tergolong wilayah pesisir, sungai kecil dan cadangan hutanyang luas, iklim dan curah hujan yang relative merata sepanjang tahun sangat menuntungkan bagi pertanian dan nelayan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kependudukan
Berdasarkan data dan letak kpendudukan, desa peradong merupakan bagian wilayah kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat dengan jumlah penduduk 1546 jiwa dari jumlah laki-laki 771 jiwa dan perempuan 775 jiwa yang terdiri dari 330 kepala keluarga (KK) dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 2% pertahun (data tahun 2008 sampai awal 2009)..
Dilihat dari asal penduduk, sebagian besar (90%) merupakan penduduk asli keturun masyarakat desa Peradong (Melayu (Islam) dan Tionghoa (Cina), selebihnya sekitar 10% merupakan pendatang yang berasal dari luar daerah, seperti Sumatra dan Jawa.
Secara etnis penduduk asli desa Peradong dikelompokkan menjadi dua, yaitu; pertama, kelompokMelayu yang hidup menetap dan berintegrasi dengan penduduk sekitar, yaitu, Air Nyatoh,Pangek, Simpang Teritip, Berang, Ibul, Pelangas dan Simpang Gong. Kedua, kelompokTionghoa (Cina) yang sebagian besar telah berpindah keluar daerah.
Tabel
Data etnis masyarakat Desa Peradong berdasarkan data Profil Desa tahun 2007
No
Etnis
Jumlah
Persentase (%)
1
2
Asli
Pendatang
Melayu
Tionghoa
Sumatra
Jawa
Bangka
1321
25
35
25
140
orang
orang
orang
orang
orang
85,44
1,61
2,3
1,61
9,05
Jumlah
1546
orang
100 %
Sumber: Arsip Desa Peradong
Agama dan Kepercayaan
Secara komunitas, penduduk desa Peradong beragama Islam (95%) dari jumlah penduduk 1546 jiwa, yaitu 1521 orang beragama Islam dan 25 orang beragama Budha. Jumlah rumah ibadah yang ada di desa Peradong terdiri dari: